Sudah banyak cerita dari Tanah Suci yang membuat kita takjub, merasa aneh atau bahkan bingung. Demikian juga dengan yang dialami seseorang saat berkunjung kesana sebulan lalu.
Kejadiannya di Mekkah al Mukarromah

Sebagai kota yang wajib dikunjungi oleh umat Muslim yang menjalankan ibadah haji atau umroh, kota ini banyak menyimpan ‘cerita misteri’ tentang betapa cepatnya apa yang kita pikirkan, ucapkan atau lakukan ‘dikembalikan’ oleh Tuhan.
Kalau hal-hal baik yang kita terima, biasanya kita langsung merasa menjadi orang terpilih yang disayangi Tuhan. Agak-agak ge-er sedikit. Agak-agak pe-de sedikit. Dan cerita tentang hal-hal baik yang kita alami di Tanah Suci itu, biasanya juga akan kita bagi kesana-sini dengan murah hati. Dengan senyum yang dibuat sangat rendah hati.
Sangat manusiawi sebenarnya.
Tapi apakah hal-hal baik yang kita terima itu betul-betul menjadikan kita pantas disebut manusia baik?
Wallahu a’lam, hanya Tuhan yang tahu.
Disini ada sepenggal kisah tentang pengalaman yang dialami oleh seseorang beberapa waktu lalu. Bukan untuk pamer kehebatan atau ingin menunjukkan kebaikan, tapi sekedar mengingatkan bahwa Tuhan pasti mengetahui semua yang kita lakukan, katanya (DetikNews.com)
Begini ceritanya.
Siang itu, setelah sholat dzuhur di Masjidil Haram yang dilanjutkan makan siang dengan anggota rombongan, saya, Risa dan Bi Entin kembali ke kamar hotel untuk beristirahat sebentar sambil menunggu waktu sholat Ashar.
Sambil membuka kaus kaki, Bi Entin bilang begini :
‘Tadi itu surat apa ya yang dibaca imam, kok panjang sekali dan Bi Entin nggak pernah denger…’
Dengan spontan Risa menjawab : ‘Ya iyalah Bi Entin, kalau surat yang dibaca disini pasti panjang-panjang. Nggak mungkin kan di mesjid sebesar Masjidil Haram imam-nya baca surat Al Falaq atau An Naas yang pendek-pendek…’
Dalam hati saya menyetujui pendapat Risa. Apalagi pengalaman membuktikan, selama kami sholat berjamaah di Madinah maupun Mekkah, semua surat yang dibaca imam selalu surat surat panjang yang rata-rata belum pernah saya dengar apalagi hafal. Boro-boro.
Percakapan siang itu segera dilupakan.
Sore harinya kami kembali ke Masjidil Haram untuk sholat maghrib berjamaah. Masjid sudah lumayan penuh. Tapi untunglah kami masih kebagian untuk sholat di tempat yang diinginkan. Setelah menunggu hampir satu jam, sholat pun dimulai. Saya, Risa dan Bi Entin langsung berdiri dan merapatkan shaf.
Baru saja rakaat pertama dimulai dan Al Fatihah selesai dibacakan imam, saya langsung kaget, takjub dan bingung. Tanpa diduga-duga, surat pendek yang dibacakan imam ternyata surat Al Falaq yang tadi siang kami bahas habis-habisan di kamar hotel…
Duh, secepat itu ya semua ditunjukkan? Tanpa cicilan, semua dibayar kontan.
Setelah mengucapkan salam di rakaat terakhir, saya dan Risa langsung berpandangan dan tertawa malu. Malu sama Tuhan. Malu sama ke-soktahu-an yang tadi siang kami tunjukkan. Baru kemudian saya bersujud dan memohon ampun atas prasangka yang sudah kami ucapkan. Saya juga minta pada Tuhan, agar sifat rendah hati saya ditambahkan.
Cerita kedua, agak-agak membuat saya ge-er sebenarnya. Tapi sudahlah, saya toh hanya ingin berbagi cerita yang sampai sekarang masih saja membuat saya geleng-geleng kepala.
Entah kenapa, selama disana saya jarang sekali membawa sajadah atau alas sholat kalau pergi ke masjid. Saya begitu mengandalkan tempat berkarpet yang masih kosong. Kadang dapat, kadang tidak. Kalau tidak kebagian, resikonya adalah harus sholat di lantai mesjid yang dinginnya minta ampun. Dan anehnya, resiko itu berulang kali saya ambil saking malasnya membawa sajadah…memang parah!
Hari itu kami kembali sholat maghrib dan sholat Isya’ berjamaah di Masjidil Haram. Lagi-lagi saya tidak membawa sajadah.
Di sebelah kanan saya, kebetulan duduk seorang nenek yang sepertinya berasal dari India atau Pakistan. Saya tidak tahu. Saat datang, wajahnya memakai ‘topeng’ berwarna emas yang menutupi sebagian wajah. Terus terang, saya kaget sekali melihatnya. Tapi syukurlah begitu duduk dan membentangkan sajadah, topeng emas itu langsung dilepaskan.
Setelah bertukar senyum, diapun membentangkan sebagian sajadahnya dihadapan saya. Hehe, mungkin dia kasihan melihat saya sholat hanya beralas karpet, jadi dia berinisiatif untuk berbagi sajadah. Saya mencoba memulai percakapan dengan pertanyaan standar. Asalnya darimana. Tapi sayang, kalimat-kalimat yang dia ucapkan terdengar ajaib di telinga saya. Saya pun pasrah. Bertukar senyum itu rasanya menjadi komunikasi maksimal yang bisa kami lakukan…
Biasanya, suasana jeda antara dua waktu sholat di masjid itu diisi dengan seringnya orang yang berlalu lalang. Injak-injak sajadah dan pegang-pegang kepala saat dia melintas di sekitar kita itu hal yang biasa. Tapi tidak dengan nenek ini. Setiap orang yang menginjak sajadahnya, selalu dia omelin sambil dijutekin. Sajadah kesayangannya juga langsung diusap-usap dengan ekstrim. Wah, nenek ini ternyata lumayan posesif ya!
Saya yang duduk disebelahnya bolak-balik harus tersenyum maklum. Masalahnya, setiap kali ngedumel matanya selalu melirik saya. Dan rreaksi yang bisa saya berikan adalah menguatkan hatinya agar tidak terlalu heboh mengumbar amarah…
Selesai sholat Isya, drama itupun terjadi!
Sang nenek yang sudah melepas mukenanya, langsung melipat sajadah dan menyorongkannya pada saya. Eh, apa-apaan ini?
Saya kembali tersenyum dan mengembalikan sajadah itu ke hadapannya sambil mengucapkan terima kasih karena tadi dia telah berbagi alas sholat. Dia tetep ngotot dan mulai pasang wajah jutek. Saya yang kebingungan rupanya menginspirasi dia untuk langsung mengambil tas saya dan memasukkan sajadah itu kedalamnya…
Aduh, saya langsung spechless!
Sajadah kesayangan itu rupanya dia berikan untuk saya. Entah karena kasihan. Entah karena memang ingin memberikan. Yag pasti, sajadah itu sekarang ada di rumah kami. Menemani sholat dan mengingatkan saya tentang banyak hal yang bisa saja dikembalikan Tuhan apabila Dia mengijinkan.
Tahu tidak kenapa malam itu saya diberi alas sholat oleh orang yang tidak saya kenal sebelumnya?
Karena sorenya, saya baru saja membeli banyak sajadah di Zam-zam Tower untuk saudara, sahabat dan teman yang ada di Indonesia…


0 komentar:
Posting Komentar